Thursday, June 12, 2008

Di Depok: Orang Kaya Dilarang Sekolah



Di saat biaya sekolah makin membubung tinggi, sekolah bertaraf internasional justru didirikan khusus buat kaum miskin. Gratis lagi.

Sekilas tidak ada yang istimewa pada deretan gedung bekas SMU Madania itu. Apalagi plang nama sekolah dibuat dalam ukuran kecil. Hanya gaya arsitekturnya yang menarik perhatian. Jendela dibuat besar dan teralis besi terlihat kokoh. Ini mengingatkan kita pada bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda.

Padahal, di gedung yang dibangun tahun 1992 ini, aktivitas sekolah gratis untuk kaum miskin dipusatkan. Di atas tanah seluas 2,8 hektare, tiga gedung utama terlihat megah. Itulah sekilas pemandangan komplek Sekolah Menengah Akselerasi Internat Ekselensia Indonesia (Smart EI). Ada ruang pengajar yang di lantai atasnya digunakan sebagai ruang belajar. Sementara asrama siswa menjadi satu gedung dengan asrama kepala sekolah. Kantin berada di bawah asrama guru. Di samping itu, terdapat masjid yang cukup besar serta lapangan sepak bola.

Bayangkan, pada saat sebagian besar kaum papa menjerit karena mahalnya biaya pendidikan, Dompet Dhuafa melangkah dengan gagasan cerdas. Mendirikan sekolah tanpa bea bagi golongan tak mampu. Tidak tanggung-tanggung, konsep sekolah ini adalah sekolah plus berasrama (boarding school).

“Sekolah ini merupakan hasil evaluasi program beasiswa yang dijalankan Dompet Dhuafa,”terang Sapto Sugiharto, sang Kepala Sekolah. Selama kurang lebih 12 tahun menjalankan program beasiswa untuk siswa SD sampai SMU, menurutnya banyak ditemukan kekurangan terutama dari perspektif dampak serta efektivitas program.

“Di antaranya, ada orangtua murid yang menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas. Ada juga dana beasiswa digunakan untuk kebutuhan konsumtif,” tambah Sapto.

Dari evaluasi inilah bergulir gagasan mendirikan sekolah sendiri. Di samping itu, ada perubahan orientasi dari program beasiswa Dompet Dhuafa. Bila awalnya mengejar jumlah peserta didik yang dibiayai. Kini lebih pada kualitas peserta didik yang dibiayai.

Sejak 2002, konsep sekolah ini mulai digodok. Dua tahun kemudian, tim pengelola sekolah yang terdiri dari staf pengajar dan staf administrasi terbentuk. Hanya enam bulan berselang, tepatnya 29 Juli 2004, sekolah ini resmi beroperasi.

Rekrutmen pun mulai dilakukan. Dengan memanfaatkan jaringan Lembaga Amil Zakat dan Badan Majelis Taklim di daerah, 35 orang peserta didik dari 18 provinsi dinyatakan lulus sebagai siswa angkatan pertama. Beberapa kriteria yang digunakan untuk menjaring siswa adalah dari keluarga dhuafa (sesuai kriteria kemiskinan Dompet Dhuafa Republika), laki-laki, lulus SD/sederajat dan maksimal berusia13 tahun pada saat pendaftaran. Selain itu, calon siswa juga harus bersedia mengikuti program belajar lima tahun (hingga selesai) serta memperoleh izin dari orang tua/wali. Kriteria prestasi pun dipatok, minimal ranking satu sampai lima saat kelas empat hingga kelas enam.



Standar Internasional
“Smart adalah konsep sekolah akselerasi berasrama (internat). Jadi SMP dan SMA ditempuh dalam lima tahun,”jelas Sapto yang kerap disapa ustadz ini. Sedangkan untuk metode pengajaran, lanjutnya, standar pengajaran internasional yang menjadi acuan. Jadi jangan heran bila suasana kelas lebih mendekati suasana diskusi, karena peserta didik didorong untuk aktif dan berani mengemukakan pendapat.

Rasio guru dan murid juga menjadi perhatian serius. Di sekolah ini, seorang guru menangani 17 – 18 murid. Di samping itu, konsep moving class (kelas berpindah) sesuai mata pelajaran, menambah kenyamanan belajar. Dengan fasilitas masing-masing laboratorium yang cukup memadai, Smart EI bisa disejajarkan dengan sekolah plus lain. Maka, untuk menjaga kualitas pendidikan, Smart EI hanya menerima 35 siswa yang dibagi dalam dua kelas untuk setiap angkatan.

“Untuk kurikulum, kami masih mengacu kepada kurikulum nasional yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Hanya kami lengkapi dengan instrumen penilaian serta prosedur evaluasi yang menjadi titik lemah KBK,” papar alumnus Universitas Negeri Jakarta ini.

Karenanya, evaluasi yang dilakukan tidak hanya berdasarkan prestasi akademik yang tercermin pada buku raport. Tetapi dilengkapi dengan raport internal. “Sebab raport sekolah selama ini kan tidak mencerminkan apa-apa,” tukas Sapto. Untuk rapot internal, wilayah evaluasi mencakup paper and pen yaitu kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal di atas kertas. Lalu ada performance yang mencerminkan kemampuan siswa dalam menampilkan potensi diri. Produk untuk menggambarkan kemampuan peserta didik menghasilkan karya, serta portofolio, yang menjadi gambaran detail tentang siswa bersangkutan.

Dengan model evaluasi seperti itu, menurut Sapto, awalnya memang terasa berat. Sebab sebagian guru belum terbiasa dengan model evaluasi non-konvensional. Namun setelah diadakan training untuk para guru, evaluasi siswa yang dilakukan per enam bulan ini, tidak menemui hambatan yang berarti.

Metode evaluasi tidak dilakukan dengan membandingkan antara prestasi satu siswa dengan siswa yang lain, tetapi secara individual. “Kita ajak si anak merefleksikan proses yang dialami. Misalnya, sebelumnya tidak mengerti matematika, sekarang kesulitan yang dihadapi apa, lalu kami berdiskusi dengan siswa bersangkutan kira-kira solusinya apa,”tandas ayah yang sedang menanti putra ketiganya ini.

Meski demikian, Bahasa Indonesia masih menjadi bahasa pengantar di sekolah ini. “Kami memikirkan latar belakang pendidikan siswa yang beragam. Mengingat kondisi obyektif peserta didik dari Jawa dan luar Jawa yang senjang. Karenanya, bahasa Inggris diajarkan masih pada taraf pengenalan,”sambung Sapto.

Begitu juga dengan Bahasa Arab, “Pertimbangan utama kami, siswa harus belajar dalam suasana yang menyenangkan. Jadi mata pelajaran bukanlah beban,” tandas mantan wartawan Berita Buana ini. Namun, tambahnya, begitu masuk pelajaran SMA, ditargetkan ada beberapa mata pelajaran yang akan disampaikan dalam bahasa Inggris seperti science.



Aktivitas Padat
Aktivitas siswa di sekolah ini juga terbilang padat. Dari Senin sampai Jumat, mulai pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore, mereka belajar di kelas. Selepas sholat Ashar, aktivitas olahraga dimulai. Malam harinya, peserta didik diharuskan ikut kegiatan keagamaan seperti taklim, latihan pidato, dan belajar kitab. Sedangkan sebelum kegiatan belajar di kelas, ada aktivitas belajar membaca Al Quran.

Hari Sabtu digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Ada science club, language club, teater, art, beragam olahraga dari sepakbola, badminton, renang, sampai beladiri, serta pramuka. “Untuk murid kelas satu SMP, kami mewajibkan mengikuti semua kegiatan ekskul,” tambah Sapto.

Tentu kita sepakat untuk mengatakan padatnya kegiatan harus diimbangi dengan torehan prestasi. Itulah yang hendak dibuktikan Smart EI. Meski baru menginjak usia satu tahun, prestasi yang diukir siswa sekolah ini cukup menjanjikan. Meraih gelar kampiun olimpiade fisika tingkat Kabupaten Bogor, menjadi juara pertama lomba kreativitas yang diselenggarakan oleh remaja Masjid Salman, ITB adalah beberapa contoh prestasi tersebut.

“Sebetulnya, kami tidak pernah memaksakan target juara kepada siswa dalam setiap kompetisi. Yang penting mencari pengalaman dan siswa senang mengikutinya,”jelas Sapto.

Bekerja 24 jam
Satu hal yang membedakan konsep boarding school di Smart EI dengan sekolah sejenis lainnya adalah tidak ada pembedaan guru di kelas dan di asrama. “Mungkin kalau di sekolah berasrama lain, antara guru di kelas dengan pembina asrama adalah orang yang berbeda. Namun tidak di sini,”ujar Sapto.

Karena itu, sejak awal rekrutmen pengajar, komitmen untuk bekerja 24 jam sehari ditekankan. “Di sini guru sekaligus sebagai mentor, pembina akhlak, pembina pemahaman keagamaan, pembina kedisiplinan. Karena guru dan peserta didik berada dalam satu lingkungan,” lanjut Sapto. Tidak berlebihan bila dikatakan tugas guru di sekolah ini sekaligus pengganti orangtua.

Dengan latar belakang kultur serta kebiasaan peserta didik yang beragam, pemahaman akan kondisi mental dan psikologis siswa mutlak bagi pengajar. Di sisi lain, tidak bisa dinafikkan terjadi kesenjangan pemahaman terhadap materi pelajaran antara siswa yang berasal dari Jawa dengan siswa dari luar Jawa.

Menurut Sapto, persoalan-persoalan tersebut diminimalisir dengan mengadakan masa matrikulasi bagi siswa baru. Pada angkatan pertama, masa matrikulasi berlangsung empat bulan. Pada fase ini, yang biasanya dimulai awal Juli, hal-hal yang menjadi perhatian adalah pengenalan learning how to learn. Siswa dikenalkan bagaimana cara belajar yang efektif.

Yang tidak kalah penting adalah adaptasi kehidupan di asrama, terutama soal kemandirian. “Kondisi masing-masing anak itu berbeda-beda. Meski berasal dari golongan tak mampu, tidak semua anak biasa hidup mandiri,”terang Sapto.

Meski demikian, mendorong kemandirian anak bukanlah perkara gampang. “Kita juga harus melihat kondisi psikologis anak. Apalagi siswa di sini rata-rata usianya baru 11 tahun. Jadi memang masih anak-anak,”urai mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini.

Karena itu, latihan kemandirian dimulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan asrama, dengan menerapkan jadwal piket asrama. Begitu juga dengan hukuman yang diterapkan. Di sekolah ini hukuman disebut sebagai konsekuensi. Hukuman dibuat berdasarkan klasifikasi pelanggaran. Yang menarik, setiap aturan yang diberlakukan dibuat berdasarkan kesepakatan dengan siswa. Demikian juga dengan aturan di kelas.

Untuk berkomunikasi dengan keluarga, Smart EI hanya membolehkan siswa yang berasal dari Jabotabek, dikunjungi maksimal sebulan sekali oleh orangtuanya. Sementara yang berasal dari luar Jabotabek cukup melalui korespondensi. Setiap setahun sekali, yang bertepatan dengan masa liburan panjang, para siswa dibolehkan pulang. Semua biaya pulang-pergi dibiayai sekolah. Bagi siswa di luar pulau Jawa, biasanya transportasi yang digunakan adalah pesawat terbang.

Sekolah Percontohan
Kini Smart EI dijadikan sekolah model oleh pemerintah Kabupaten Bogor dan sering menjadi tempat pembelajaran bagi lembaga lain. “Sebenarnya kami ingin pemerintah kabupaten menyambut model sekolah gratis ini dengan membuat program serupa yang dibiayai negara. Apalagi sekarang era otonomi,” harap Sapto.

Namun apa daya, sampai detik ini belum ada tanda-tanda dari pemerintah Kabupaten Bogor atau daerah lain untuk mencontoh konsep sekolah gratis ini. Justru lembaga swasta yang banyak memetik pelajaran dari Smart EI. Misalnya, Asuransi Takaful yang berambisi membuat 1.000 sekolah untuk kaum miskin. “Pada dasarnya, kami terbuka untuk siapa pun. Namun secara prinsip, kami memprioritaskan kaum dhuafa,”jelas Sapto.

Sesuai dengan misi Dompet Dhuafa, Lembaga Pengembangan Insani (LPI) yang membawahi aktivitas Smart EI juga mempunyai sayap program lain yaitu Bea Studi Etos yang diperuntukkan bagi mahasiswa, Makmal Pendidikan yang merupakan program peningkatan kualitas guru, dan Lembaga Pendampingan untuk manajemen sekolah. “Jadi semacam lembaga training,”imbuh Sapto. Sekali lagi yang menjadi prioritas adalah orang miskin.

“Jadi kalau ada sekolah untuk anak-anak orang kaya yang ingin menggunakan jasa kami, boleh saja. Tapi, syaratnya harus mengajak sekolah di sekitarnya yang kurang mampu,”tegas Sapto.

Memang semua aktivitas di bawah LPI memfokuskan diri bagi pemberdayaan kaum papa. “Pernah ada donatur kami waktu berkunjung ke sini, mengutarakan niat ingin menyekolahkan anaknya di sini. Bayar juga tidak apa-apa. Saya bilang, kalau mau sekolah di sini ya harus miskin. Jadi, di sini orang kaya dilarang sekolah,”tambah Sapto.

Persoalan lingkungan sekitar sekolah juga menjadi perhatian. Apalagi Sapto menyadari bahwa tantangan lingkungan di sekitar sekolah memang berat. Mulai dari masalah narkoba sampai prostitusi. “Kami pernah mengadakan workshop dengan mengundang teman-teman pengelola sekolah di sekitar dan menghadirkan pakar pendidikan untuk memikirkan bagaimana memperbaiki citra kawasan Parung ini. Syukur-syukur bisa dicitrakan sebagai kawasan pendidikan,”terang Sapto.

Aktivitas lain yang dilakukan, melalui Pusat Kegiatan Masyarakat, LPI mencoba melakukan pendekatan ke remaja. Mereka menggelar “Pertemuan Remaja se-Parung” yang dilakukan dalam bentuk camping (outbond). “Dalam kegiatan itu, kami melakukan pembinaan remaja tentang pemahaman keagamaan,”tambah Sapto.

Sementara untuk masyarakat, LPI mempunyai sayap kegiatan di bawah Masyarakat Mandiri, dalam bentuk pendampingan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pembinaan potensi masyarakat, terutama potensi ekonomi.

Nampaknya tidak berlebihan untuk mengatakan apa yang telah dilakukan Dompet Dhuafa seperti oase di tengah padang pasir. Di tengah keputusasaan mencari solusi masalah pendidikan yang tak kunjung teratasi, ternyata ada kelompok masyarakat yang bertindak konkret. Tentu saja seraya tak berhenti berharap, semoga pejabat-pejabat di pemerintahan segera menemukan pencerahan dan kesadaran. Amien! (dado/roi)

Ditulis oleh Danardono dan Rohidin, dimuat di LAIK, tabloid pelayanan publik yang terbit sekali seumur hidup.